Memuat berita terbaru...

Program GAMAS Tuai Sorotan: Kebijakan Ayah Antar Anak ke Sekolah Dinilai Perlu Pertimbangkan Psikologis Anak Yatim


SUKA MAKMUE (Liputan16.com)
— Pemerintah melalui kolaborasi antara Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN serta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) resmi menginisiasi Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS). Meski bertujuan positif untuk membangun pengasuhan kolaboratif, program ini menuai sorotan karena dinilai kurang mempertimbangkan dampak psikologis bagi anak-anak yatim.

Seiring berakhirnya masa libur sekolah, para pelajar dari tingkat SD hingga SMA sederajat akan kembali memulai aktivitas belajar pada Senin esok. Bersamaan dengan momen tersebut, kementerian terkait mengeluarkan imbauan resmi yang mewajibkan atau mendorong sosok ayah untuk secara langsung mengantarkan anaknya ke sekolah.

Kendati niat di balik kebijakan tersebut dinilai baik, implementasinya di lapangan memunculkan kekhawatiran tersendiri. Mantan Pekerja Sosial Perlindungan Anak di Kabupaten Nagan Raya, Arif, menilai bahwa program ini secara tidak langsung dapat memicu memori traumatis dan kesedihan bagi anak-anak yang telah kehilangan sosok ayah.

Menurut Arif, pemerintah daerah di Aceh sebaiknya mengkaji ulang sebelum menerapkan imbauan dari pusat secara menyeluruh, mengingat dinamika sosial keluarga di Aceh memiliki karakteristik yang berbeda.

"Seharusnya Pemerintah Aceh maupun pemerintah kabupaten/kota tidak latah dengan imbauan pusat. Karena di Aceh, kehadiran maupun kedekatan ayah dengan anak masih berada di angka yang sangat normatif," terang Arif memberikan pandangannya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa fenomena krisis kehadiran peran ayah (fatherless) belum menjadi isu krusial di Aceh. Oleh karena itu, urgensi kampanye pengasuhan kolaboratif secara masif pada hari pertama sekolah belum terlalu mendesak untuk diterapkan di wilayah tersebut.

"Alhamdulillah, di Aceh belum ada kasus yang menonjol terkait krisis kasih sayang dari seorang ayah terhadap anak-anaknya. Ayah yang fokus bekerja mencari nafkah, umumnya tetap meluangkan waktu untuk bercengkerama dengan sang anak di malam hari atau pada hari libur," tambah Arif.

Ia menegaskan, kecuali jika sudah ditemukan fenomena penelantaran anak oleh sosok ayah secara masif di Aceh, barulah kebijakan seperti ini relevan untuk digaungkan oleh pemerintah daerah.

Menutup keterangannya, Arif menititikberatkan pada pentingnya kepekaan sosial dan empati dari para pemangku kebijakan sebelum merumuskan sebuah program berskala nasional.

"Apakah tidak ada rasa empati kita kepada anak yatim? Bagaimana perasaan mereka jika teringat pada ayahnya yang sudah lebih dulu kembali kepada Allah saat melihat teman-temannya diantar sang ayah? Pastinya mereka akan merasa sedih dan bisa jadi menangis dalam hati," pungkasnya.

Reporter: Rahmat P Ritonga